Ada cahaya yang memendar nun jauh di sana. Tak habis-habisnya mata
memandang penuh pesona. Indah dan menakjubkan, hingga tiada sesaat pun
melainkan sebuah klimaks dari puncak rasa kita, terkadang seperti
puncak gelombang Cinta, terkadang menghempas seperti sauh-sauh
kesadaran di hempas pantai, terkadang begitu jauh di luar batas harapan,
padahal ia lebih dekat dari sanubari kita sendiri.
Tiba-tiba cahaya itu ada di depan mata hati kita. Ternyata sebuah
gerbang keagungan yang dahsyat penuh kharisma. Gerbang itu seakan
bicara: “Akulah gerbang para kekasih Tuhan”. Sejengkal saja kaki kita
melangkah, memasuki pintu gerbang itu, seluruh kesadaran kita sirna
dalam luapan gelombang cinta yang digerakkan oleh kedahsyatan angin
kerinduan. Kata pertama yang berbunyi di sana adalah deretan puja dan
puji:
“Segala puji bagi Allah yang telah meluapi lembah kalbu para wali-Nya
dengan luapan Cinta kepada-Nya. Dia yang membangunkan istana khusus
agar luapan arwah para kekasih-Nya itu, senantiasa menyaksikan
keagungan-Nya. Dia pula yang menghamparkan padang ma’rifatullah melalui
rahasia-rahasia jiwanya. Lalu kalbunya berada di sebuah taman surga.
Taman itu penuh dengan lukisan-lukisan ma’rifatullah yang tiada tara.
Sedangkan arwah-arwah mereka berada di Taman Malakut, tak sejenak pun
arwah itu melainkan berada dalam keabadian penyucian pada-Nya. Duh,
rahasia arwahnya, mendendangkan tasbih dalam tarian Lautan
Jabarut-Nya.”
Lalu sebuah gerbang yang begitu agung dan indahnya, mengukirkan
prasasti yang ditulis oleh Qalam Ruhani. “Segala Puja bagi Allah, yang
telah membuka gerbang Cinta-Nya bagi para Kekasih-Nya. Lalu Dia
mengurai rantai yang membelenggu jiwanya, sehingga mereka teguh dalam
keharusan khidmah pada-Nya, sedangkan cahaya-cahaya-Nya melimpahi
akal-akal mereka. Lalu tampak jelas, keajaiban-keajaiban kekuasaan-Nya,
sedangkan kalbu-kalbu mereka terjaga dari haru biru tipudaya yang
menumpah pada pesona-pesona cetak lahiriyah jagad semesta, sampai
akhirnya menggapai ma’rifat paripurna. Amboi, ruh-ruh mereka
tersingkapkan dari kemahasucian paripurna-Nya, dan sifat-sifat
keagungan-Nya. Merekalah penempuh jalan hadirat-Nya, dalam kenikmatan
rahasia kedekatan dengan-Nya, melalui tarekat dahsyat rindu dendam-Nya,
hingga mereka termanifestasi dalam hakikat, melalui penyaksian
Ketunggalan-Nya. Mereka telah diraih dari mereka, dan Dia menyirnakan
mereka dari mereka, lalu mereka ditenggelamkan dalam lautan
Kemaha-Dia-an-Nya. Dia memisahkan pasukan-pasukan terpencar dalam
kesatuan kitab-Nya bagi para kekasih terpilih-Nya. Lalu mereka terjaga
oleh kerahasiaan jiwa melalui limpahan cahaya-cahaya, agar ia menjadi
obyek manifestasi, di samping ke-Tunggal-Dirian-Nya.”
Kalau saja kita ingin mengenal gerbang-gerbang Kekasih Allah itu,
semata bukanlah hasrat dan ambisi untuk menjadi Kekasih-Nya. Sebab,
mengangkat derajat seseorang menjadi Kekasih-Nya adalah Hak Allah, dan
Allah sendiri yang memberi Wilayah itu kepada hamba-Nya yang
dikehendaki-Nya.
Sekadar berkah atas cahaya kewalian dari kekasih-kekasih-Nya itu,
sesungguhnya lebih dari cukup bagi kita. Sedangkan pengetahuan kita
atas dunia kewalian yang menjadi bagian dari misteri-misteri Ilahi,
tidak lebih dari limpahan-limpahan Ilahi, agar kita lebih yakin
kepada-Nya atas keimanan kita selama ini.
Para Auliya Allah adalah Ahlullah. Mereka terpencar di muka bumi
sebagai “tanda-tanda” Ilahiyah, dengan jumlah tertentu, dan tugas-tugas
tertentu. Di antara mereka ada yang ditampakkan karamahnya, ada pula
yang tidak ditampakkan sama sekali. Oleh karena itu hamba-hamba Allah
yang diberi kehebatan luar biasa, tidak sama sekali disebut Waliyullah,
dan belum tentu juga yang tidak memiliki kelebihan sama sekali, tidak
mendapat derajat Wali Allah. Para Auliya adalah mereka yang senantiasa
mencurahkan jiwanya untuk Ubudiyah kepada Allah, dan menjauhkan jiwanya
dari kemaksiatan kepada Allah.
Di masyarakat kita, seringkali terjebak oleh fenomena-fenomena
metafisikal yang begitu dahsyat yang muncul dari seseorang. Lalu
masyarakat kita mengklaim bahwa orang tersebut tergolong Waliyullah.
Padahal kata seorang syekh sufi, “Jika kalian melihat seseorang bisa
terbang, bisa menembus batas geografis dengan cepat, bahkan bisa
menembus waktu yang berlalu dan yang akan datang, janganlah Anda anggap
itu seorang Wali Allah sepanjang ia tidak mengikuti Sunnah Rasulullah
SAW.“
Mengapa? Sebab ada ilmu-ilmu hikmah tertentu yang bisa dipelajari, agar
seseorang memiliki kehebatan tertentu di luar batas ruang dan waktu,
dan ironisnya ilmu demikian disebut sebagai Ilmu Karamah. Padahal
karamah itu, adalah limpahan anugerah Ilahi, bukan karena usaha-usaha
tertentu dari hamba Allah.
Karamah sendiri bukanlah syarat dari kewalian. Kalau saja muncul
karamah pada diri seorang wali, semata hanyalah sebagai petunjuk atas
kebenaran ibadahnya, kedudukan luhurnya, namun dengan syarat tetap
berpijak pada perintah Nabi SAW. Jika tidak demikian, maka karamah
hanyalah kehinaan syetan. Karena itu di antara orang-orang yang saleh
ada yang mengetahui derajat kewaliannya, dan orang lain tahu. Ada pula
yang tidak mengetahui derajat kewaliannya sendiri, dan orang lain pun
tidak tahu. Bahkan ada orang lain yang tahu, tetapi dirinya sendiri
tidak tahu.
Tetapi di belahan ummat Islam lain juga ada yang menolak konsep
kewalian. Bahkan dengan mudah mengklaim yang disebut Auliya’ itu
seakan-akan hanya derajat biasa dari derajat keimanan seseorang. Tentu
saja, kelompok ini sama kelirunya dengan kelompok mereka yang
menganggap seseorang, asal memiliki kehebatan, lalu disebut sebagai
Waliyullah, apalagi jika orang itu dari kalangan kiai atau ulama.
Meluruskan pandangan Kewalian di khalayak ummat kita, memang sesuatu
yang rumit. Ada ganjalan-ganjalan primordial dan psikologis, bahkan
juga ganjalan intelektual.
Al-Quthub Abul Abbas al-Mursi, semoga Allah meridlainya, menegaskan
dalam kitab yang ditulis oleh muridnya, Lathaiful Minan, karya Ibnu
Athaillah as-Sakandari, “Waliyullah itu diliputi oleh ilmu dan
ma’rifat-ma’rifat, sedangkan wilayah hakikat senantiasa disaksikan oleh
mata hatinya, sehingga ketika ia memberikan nasehat seakan-akan apa
yang dikatakan seperti identik dengan izin Allah. Dan harus dipahami,
bagi siapa yang diizinkan Allah untuk meraih ibarat yang diucapkan,
pasti akan memberikan kebaikan kepada semua makhluk, sementara
isyarat-isyaratnya menjadi riasan indah bagi jiwa-jiwa makhluk itu.”
“Dasar utama perkara Wali itu,” kata Abul Abbas, “adalah merasa cukup
bersama Allah, menerima Ilmu-Nya, dan mendapatkan pertolongan melalui
musyahadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa bertawakkal
kepada Allah, maka Dia-lah yang mencukupinya.” (QS. ath-Thalaq: 3).
“Bukankah Allah telah mencukupi hambanya?” (QS. Az-Zumar: 36).
“Bukankah ia tahu, bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Tahu?” (QS.
al-‘Alaq :14). “Apakah kamu tidak cukup dengan Tuhanmu, bahwa
sesungguhnya Dia itu Menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Fushshilat: 53).
Syekh Agung Abdul Halim Mahmud dalam memberikan catatan khusus mengenai
Lathaiful Minan karya as-Sakandari mengupas panjang lebar mengenai
Kewalian ini. Hal demikian dilakukan karena, as-Sakandari menulis kitab
itu memulai tentang wacana Kewalian, karena memang, buku besar itu
ingin mengupas tuntas tentang biografi dua Waliyullah terbesar
sepanjang zaman, yaitu Sulthanul Auliya’ Syekh Abul Hasan asy-Syadzili
ra dan muridnya, Syekh Abul Abbas al-Mursi.
Dalam sebuah ayat yang seringkali menjadi rujukan utama dunia Kewalian
adalah: “Ingatlah bahwa sesungguhnya para Wali-wali Allah itu tidak
punya rasa takut dan rasa gelisah. Yaitu orang-orang yang beriman dan
mereka bertaqwa. Mereka mendapatkan kegembiraan dalam kehidupan dunia
dan dalam kehidupan akhirat. Tidak ada perubahan bagi Kalimat-kalimat
Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus:
62-64)
Dalam salah satu hadits Qudsi yang sangat populer disebutkan,
“Rasulullah SAW bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Siapa yang memusuhi
Wali-Ku, maka benar-benar Aku izinkan orang itu untuk diperangi. Dan
tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku
cintai dibanding apa yang Aku wajibkan padanya. Dan hamba-Ku itu
senantiasa mendekatkan pada-Ku dengan ibadah-ibadah Sunnah sehingga Aku
mencintai-Nya. Maka bila Aku mencintainya, Akulah pendengarannya di
mana ia mendengar, dan menjadi matanya di mana ia melihat, dan menjadi
tangannya di mana ia memukul, dan menjadi kakinya di mana ia berjalan.
Jika ia memohon kepada-Ku, Akupasti memberinya, jika ia memohon
perlindungan kepadaKu Aku pasti melindunginya.”
Karenanya al-Hakim at-Tirmidzi, salah satu sufi besar generasi abad
pertengahan, menulis kitab yang sangat monumental hingga saat ini,
Khatamul Auliya’ (Tanda-tanda Kewalian), yang di antaranya berisi 156
pertanyaan mengenai dunia sufi, dan siapa yang bisa menjawabnya, maka
ia akan mendapatkan Tanda-tanda Kewalian itu. Beliau juga menulis kitab
‘Ilmul Auliya.
Ragam Para Wali
Para Syekh Sufi membagi macam para Wali dengan berbagai versi, termasuk
derajat masing-masing di hadapan Allah Ta’ala. Dalam kitab
Al-Mafakhirul Aliyah fi al-Ma’atsir asy-Syadzilyah disebutkan ketika
membahas soal Wali Quthub. Syekh Syamsuddin bin Katilah Rahimahullaahu
Ta’ala menceritakan: “Saya sedang duduk di hadapan guruku, lalu
terlintas untuk menanyakan tentang Wali Quthub. “Apa makna Quthub itu
wahai tuanku?” Lalu beliau menjawab, “Quthub itu banyak. Setiap
muqaddam atau pemuka sufi bisa disebut sebagai Quthub-nya.
Sedangkan al-Quthubul Ghauts al-Fard al-Jami’ itu hanya satu. Artinya
bahwa Wali Nuqaba’ itu jumlahnya 300. Mereka itu telah lepas dari
rekadaya nafsu, dan mereka memiliki 10 amaliyah: empat amaliyah
bersifat lahiriyah, dan enam amaliyah bersifat bathiniyah. Empat
amaliyah lahiriyah itu antara lain:
1) Ibadah yang banyak, 2) Melakukan zuhud hakiki, 3) Menekan hasrat
diri, 4) Mujahadah dengan maksimal. Sedangkan lelaku batinnya: 1)
Taubat, 2) Inabat, 3) Muhasabah, 4) Tafakkur, 5) Merakit dalam Allah,
6) Riyadlah. Di antara 300 Wali ini ada imam dan pemukanya, dan ia
disebut sebagai Quthub-nya.
Sedangkan Wali Nujaba’ jumlahnya 40 Wali. Ada yang mengatakan 70 Wali.
Tugas mereka adalah memikul beban-beban kesulitan manusia. Karena itu
yang diperjuangkan adalah hak orang lain (bukan dirinya sendiri).
Mereka memiliki delapan amaliyah: empat bersifat batiniyah, dan empat
lagi bersifat lahiriyah: Yang bersifat lahiriyah adalah 1) Futuwwah
(peduli sepenuhnya pada hak orang lain), 2) Tawadlu’, 3) Menjaga Adab
(dengan Allah dan sesama) dan 4) Ibadah secara maksimal. Sedangkan
secara Batiniyah, 1) Sabar, 2) Ridla, 3) Syukur), 4) Malu.
Adapun Wali Abdal berjumlah 7 orang. Mereka disebut sebagai kalangan
paripurna, istiqamah dan memelihara keseimbangan kehambaan. Mereka
telah lepas dari imajinasi dan khayalan, dan mereka memiliki delapan
amaliyah lahir dan batin. Yang bersifat lahiriyah: 1) Diam, 2) Terjaga
dari tidur, 3) Lapar dan 4) ‘Uzlah. Dari masing-masing empat amaliyah
lahiriyah ini juga terbagi menjadi empat pula: Lahiriyah dan sekaligus
Batiniyah:
Pertama, diam, secara lahiriyah diam dari bicara, kecuali hanya
berdzikir kepada Allah Ta’ala. Sedangkan Batinnya, adalah diam batinnya
dari seluruh rincian keragaman dan berita-berita batin. Kedua, terjaga
dari tidur secara lahiriyah, batinnya terjaga dari kealpaan dari
dzikrullah. Ketiga, lapar, terbagi dua. Laparnya kalangan Abrar, karena
kesempurnaan penempuhan menuju Allah, dan laparnya kalangan Muqarrabun
karena penuh dengan hidangan anugerah sukacita Ilahiyah (uns).
Keempat, ‘uzlah, secara lahiriyah tidak berada di tengah keramaian,
secara batiniyah meninggalkan rasa suka cita bersama banyak orang,
karena suka cita hanya bersama Allah.
Amaliyah Batiniyah kalangan Abdal, juga ada empat prinsipal: 1) Tajrid
(hanya semata bersama Allah), 2) Tafrid (yang ada hanya Allah), 3)
Al-Jam’u (berada dalam Kesatuan Allah, 3) Tauhid.
Ragam lain dari para Wali ada yang disebut dengan Dua Imam (Imamani),
yaitu dua pribadi, salah satu ada di sisi kanan Quthub dan sisi lain
ada di sisi kirinya. Yang ada di sisi kanan senantiasa memandang alam
Malakut (alam batin) -- dan derajatnya lebih luhur ketimbang kawannya
yang di sisi kiri --, sedangkan yang di sisi kiri senantiasa memandang
ke alam jagad semesta (malak). Sosok di kanan Quthub adalah Badal dari
Quthub. Namun masing-masing memiliki empat amaliyah Batin, dan empat
amaliyah Lahir. Yang bersifat Lahiriyah adalah: Zuhud, Wara’, Amar
Ma’ruf dan Nahi Munkar. Sedangkan yang bersifat Batiniyah: Kejujuran
hati, Ikhlas, Mememlihara Malu dan Muraqabah.
Wali lain disebut dengan al-Ghauts, yaitu seorang tokoh agung dan tuan
mulia, di mana seluruh ummat manusia sangat membutuhkan pertolongannya,
terutama untuk menjelaskan rahasia hakikat-hakikat Ilahiyah. Mereka
juga memohon doa kepada al-Ghauts, sebab al-Ghauts sangat diijabahi
doanya. Jika ia bersumpah langsung terjadi sumpahnya, seperti Uwais
al-Qarni di zaman Rasul SAW. Dan seorang Qutub tidak bisa disebut
Quthub manakala tidak memiliki sifat dan predikat integral dari para
Wali.
Al-Umana’, juga ragam Wali adalah kalangan Malamatiyah, yaitu mereka
yang menyembunyikan dunia batinnya, dan tidak tampak sama sekali di
dunia lahiriyahnya. Biasanya kaum Umana’ memiliki pengikut Ahlul
Futuwwah, yaitu mereka yang sangat peduli pada kemanusiaan.
Al-Afraad, yaitu Wali yang sangat spesial, di luar pandangan dunia
Quthub.
Para Quthub senantiasa bicara dengan Akal Akbar, dengan Ruh
Cahaya-cahaya (Ruhul Anwar), dengan Pena yang luhur (Al-Qalamul A’la),
dengan Kesucian yang sangat indah (Al-Qudsul Al-Abha), dengan Asma yang
Agung (Ismul A’dzam), dengan Kibritul Ahmar (ibarat Berlian Merah),
dengan Yaqut yang mememancarkan cahaya ruhani, dengan Asma’-asma,
huruf-huruf dan lingkaran-lingkaran Asma huruf. Dia bicara dengan
cahaya matahati di atas rahasia terdalam di lubuk rahasianya. Ia
seorang yang alim dengan pengetahuan lahiriah dan batiniyah dengan
kedalaman makna yang dahsyat, baik dalam tafsir, hadits, fiqih, ushul,
bahasa, hikmah dan etika. Sebuah ilustrasi yang digambarkan pada
Sulthanul Aulioya Syeikhul Quthub Abul Hasan Asy-Syadzily – semoga
Allah senantiasa meridhoi .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar